Merekam Video Dengan Sempurna dan Layak Ditonton
Apa yang bisa kita lakukan dengan sebuah kamera video dalam genggaman ? Umumnya, hanya ada 2 hal mengapa kita membutuhkan dan menggunakan kamera video. Pertama, mengabadikan sesuatu. Dan yang kedua, menciptakan sesuatu. Lalu, apa yang bisa diabadikan dan apa yang bisa diciptakan ? Peluang dan kesempatan untuk ini hampir-hampir tanpa batas. Yang membatasi hanyalah kebutuhan, kreatifitas dan kesenggangan.Dengan kamera video, kita bisa merekam dan mengabadikan beragam peristiwa dan adegan dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi dan berlangsung di sekitar kita. Tidak harus peristiwa yang sangat penting atau menarik. Mengabadikan berarti menyimpan sesuatu pada saat ini, untuk dipergunakan atau dinikmati pada suatu saat nanti. Entah esok hari, lusa, atau puluhan tahun lagi. Peristiwa dan adegan biasa-biasa saja yang terjadi pada hari ini, mungkin akan menjadi sangat penting dan menarik pada suatu saat nanti.
Dengan kamera video, kita juga bisa menciptakan beragam karya videografi untuk mengekspresikan kreatifitas, perasaan dan beragam gagasan, serta menciptakan beragam media komunikasi yang akan membantu beragam tujuan kita pada berinteraksi dengan orang lain. Dari sebuah karya dan program videografi yang kreatif dan komunikatif, kita bisa bercerita, berbagi informasi, menghibur, menularkan pengetahuan, bahkan mempengaruhi orang lain.
Masalahnya adalah bagaimana menciptakan karya dan program videografi – atau minimal rekaman video – yang sempurna dan layak ditonton ? Apapun jenis kamera yang Anda pergunakan, langkah dan tahapan-tahapan berikut ini akan membantu menyempurnakan dan memperbaiki hasil rekaman video Anda, sekaligus meningkatkan pemahaman serta ketrampilan dalam menggunakan teknologi dan media videografi secara kreatif dan komunikatif dan bercitarasa profesional.
Level 1 : Kenali dan Pahami Kamera Video Anda.
Tentu Anda tidak akan mampu menciptakan rekaman apapun, jika tidak mengenal dan memahami cara kerja piranti yang Anda gunakan. Cara menguasai pengoperasian kamera bisa dikatakan sangat mudah. Setiap kamera video di masa kini sudah diciptakan sedemikian rupa otomatisnya, hingga seorang anak TK-pun bisa segera memahami dan melakukannya dalam hitungan menit.
Perlu dicatat, meski kamera setiap jenis kamera dilengkapi dengan berbagai fasilitas, namun tidak semua fasilitas yang ada harus digunakan. Letak tombol dan menu untuk setiap jenis kamera mungkin berbeda, tetapi pada umumnya fungsi sama.
Level 2 : Rekaman Video yang Layak Dilihat dan Disimpan
Rekaman video dikatakan layak untuk dilihat dan disimpan jika memenuhi 4 syarat : cukup pencahayaan, fokus, stabil dan cukup durasi. Syarat-syarat ini hanya bisa diabaikan jika rekaman video tersebut memiliki nilai tertentu (penting dan/atau menarik) atau mengabadikan peristiwa atau adegan yang istimewa dalam kondisi darurat. Jika tidak terlalu istimewa, maka rekaman video yang tidak memenuhi syarat tersebut bisa dikatakan tidak layak dilihat atau disimpan.
Level 3 : Rekaman Video yang Layak Dinikmati
Sebagaimana fotografi, dunia videografi juga memiliki kaidah-kaidah baku yang berkaitan dengan komposisi dan penataan subyek dalam bingkai gambar (frame). Kaidah-kaidah ini menjadi semacam gramatika tersendiri dalam komunikasi antara videografer dengan penonton karya-karyanya. Dalam proses produksi, kaidah-kaidah ini juga menjadi acuan kesepahaman antara seorang produser, sutradara, penulis naskah, kameraman, dll. Sebuah rekaman video dikatakan layak untuk dinikmati jika disajikan dengan mengikuti kaidah-kaidah baku dalam dunia videografi, yang secara umum tidak berbeda jauh dengan yang berlaku dalam dunia fotografi.
Balance, Framing, Compositions : Horizontal Lines, Vertical Lines, Thirds Ratio, Diagonal Lines, Triangle, Perspective, Looking Room, Walking Room, Head Room, Golden Mean, Background, Foreground.
Frame Cutting Points : Extreme Close Up, Big Close Up, Close Up, Medium Close Up, Medium Shot, Medium Long Song, Long Shot, Extreme Long Shot.
Other Types Of Shot : 2 Shot, 3 Shot, Group Shot, Over Shoulder Shot, Establishing Shot.
Camera Movement : Panning ( Left, Right, Up, Down ), Tracking ( In, Out, Follow, Revolve ), Truck ( Left, Right ), Zooming ( In, Out )
Camera Angle # 1 : Normal Angle, Low Angle, High Angle
Camera Angle # 2 : Objective Camera, Subjective Camera
Shot By Camera Positions : Face Shot, ¾ Shot, Profile Shot, Over Shoulder Shot
Shooting Rules : Jump Cut, Crossing The Line, Continuity
Level 4 : Rekaman Video yang Selesai dan Layak Tonton
Bertumpuk-tumpuk kaset video, berjam-jam durasi rekaman video, biasanya hanya tersimpan dalam almari dan lambat namun pasti berubah menjadi sampah. Rekaman video mentah (stock shot atau master shot) seperti ini tidak menarik untuk dinikmati, karena siapapun cenderung malas untuk menikmatinya (termasuk kameramannya sendiri).
Rekaman video yang layak untuk ditonton adalah rekaman video yang selesai dan tersaji dalam wujud karya videografi yang siap dipertontonkan. Ditonton, adalah hakekat penciptakan sebuah karya atau program videografi. Tidak berbeda dengan seorang pelukis yang telah membingkai lukisannya dan memajang di dinding atau panel galeri. Tak beda juga dengan seseorang yang menyanyi di depan orang lain atau di panggung, bukan lagi di kamar mandi.
Sebagai sebuah pertunjukan, karya videografi yang siap dipertontonkan disajikan dengan kaidah logis sebuah proses penyajian. Ada awalan atau pembuka, dilanjutkan dengan isi atau materi inti dan diakhiri dengan sajian penutup. Rangkaian ini secara keseluruhan memberi informasi kepada penonton tentang apa yang sedang ditontonnya.
Dalam format sajian yang paling sederhana, sebuah judul di bagian depan, rangkaian gambar yang tersusun pada batang tubuhnya dan credit title yang muncul pada bagian akhir, sudah bisa memberikan status selesai dan siap tonton pada sebuah rekaman video. Selebihnya adalah masalah kreatifitas sesuai dengan kebutuhan dan tujuan produksi karya videografi tersebut.
Sebuah karya videografi yang selesai dan siap ditonton umumnya melewati tahap-tahap berikut ini:
1.Pra Produksi : Proses perencanaan dan persiapan produksi sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan khalayak sasaran yang dituju. Meliputi persiapan fasilitas dan teknik produksi, mekanisme operasional dan desain kreatif ( riset, penulisan outline, skenario, storyboard, dsb.).
2.Produksi : Proses pengambilan gambar di lapangan (shooting).
Pasca Produksi : Proses penyuntingan di ruang editing, memadukan hasil rekaman video dengan berbagai elemen audio visual lainnya.
3.Presentasi : Menyajikan hasil penyuntingan (editing) dalam format siap tonton (kaset, VCD, DVD, dsb.)
4.Distribusi : Penyebarluasan karya videografi (screening, penjualan, broadcasting, webcasting, dsb.).
Kesalahan Umum Videografer Pemula (Bukan Videografer Amatir)
Hampir setiap orang terbiasa menyaksikan rekaman video dan tayangan televisi dengan penyajian gambar yang baku dan sempurna. Mereka bisa menilai bagus atau tidaknya, serta enak atau tidaknya sebuah tampilan gambar di layar televisi. Namun pada saat memegang kamera dan merekam video, tidak setiap orang mampu menciptakan gambar yang bagus dan enak ditonton. Bahkan mungkin tidak pernah menyadari bahwa rekaman video yang dihasilkannya tidak bagus dan tidak enak ditonton. Berikut adalah beberapa contoh kesalahan umum para videografer pemula. Ya, videografer pemula, bukan videografer amatir. Karena yang amatir – Anda mungkin ada diantaranya – belum tentu tidak bisa menghasilkan gambar-gambar profesional.
Merekam Gempa Bumi dan Pentas Dangdut
Gempa bumi tidak setiap saat terjadi. Namun, setiap peristiwa atau adegan yang direkam seolah-olah selalu berlangsung pada saat terjadi gempa bumi. Atau seolah terjadi di seputar pentas dangdut. Semua serba goyang, termasuk videografernya. Gambar-gambar yang selalu bergoyang, tidak stabil, terkadang tidak fokus dan cenderung acak-acakan. Ini adalah bentuk kesalahan mendasar dan kebiasaan merekam tanpa rencana, sehingga merekam apa saja yang ada di depan kamera, namun tidak jelas apa yang menjadi subyeknya. Bahkan mungkin si videografer sendiri tidak tahu apa yang direkamnya.
Merekam Sambil Jogging
Kebiasaan merekam video sambil berjalan, jika tidak dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan kebutuhan, umumnya akan menghasilkan rekaman video yang tidak nyaman untuk dinikmati. Subyek seolah memantul naik turun, disertai goyangan tak beraturan. Merekam gambar dengan pergerakan seperti ini sebetulnya sangat menarik dan memberikan efek dramatis. Syaratnya, stabilitas pergerakan horizontal harus lebih diutamakan sambil sebisa mungkin meminimalisir pergerakan vertikal.
Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan Menembak
Meski sama-sama dilakukan dengan cara membidik, merekam video berbeda dengan menembak. Menempatkan subyek tepat di tengah-tengah bingkai gambar (frame) akan sangat bagus dan tepat sasaran pada saat Anda menembak dengan senapan. Tetapi dalam hal videografi, ini adalah cara pengambilan gambar yang tidak diajurkan, karena hasilnya akan cenderung membosankan. Ini adalah salah satu kesalahan mendasar dalam hal pembingkaian (framing) dan komposisi.
Mengikat Diri di Tiang Bendera
Kebiasaan merekam video dengan berdiri terpaku di satu titik, tanpa berpindah posisi, seolah merekam di tengah upacara, dalam kondisi terikat di tiang bendera. Ini akan menciptakan gambar-gambar yang statis dan monoton, karena tidak menawarkan variasi sudut pandang atau komposisi lain yang mungkin jauh lebih menarik. Juga kebiasaan hanya merekam sebatas level pandangan mata (standing eye level), meski sebetulnya akan lebih menarik jika suatu subyek diambil dari sudut alternatif (high angle atau low angle). Bukan sebuah kesalahan fatal, namun sekali lagi cenderung membosankan. Ini adalah contoh kebiasaan salah yang berkaitan dengan sudut pengambilan gambar (angle).
Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan Menyetrika
Zoom adalah fasilitas dasar yang sangat membantu dan memudahkan dalam pengoperasian kamera video. Dengan zooming, kita bisa mendekati subyek (tele) atau menjauhi obyek (wide) tanpa harus berpindah tempat. Namun penggunaan fungsi zoom yang berlebihan dan dengan cara yang tidak semestinya, akan menghasilkan rekaman video yang tidak nyaman ditonton. Subyek tiba-tiba mendekat, lalu menjauh, lalu mendekat lagi. Maju, mundur, maju lagi, mundur lagi, persis seperti setrika. Ini adalah contoh kesalahan penggunaan fasilitas kamera.
Merekam Video di Zebra Cross
Bayangkan seseorang yang akan menyeberang jalan di zebra cross. Tengok kanan, tengok kiri. Merasa belum yakin, tengok kanan lagi, tengok kiri lagi. Bahkan setelah berjalan di zebra cross pun orang masih melakukannya untuk memastikan apakah jalan benar-benar aman. Tengok kanan kiri adalah kebiasaan bagus jika seseorang akan menyeberang jalan raya. Tapi merekam video dengan cara serupa, tidak akan menghasilkan rekaman yang menarik untuk ditonton. Terlalu banyak panning dalam satu shot ( satu ambilan gambar dalam satu rekaman), baik ke kiri ke kanan atau ke atas ke bawah (tilt) adalah contoh kebiasaan buruk dalam merekam gambar. Terlebih jika digabungkan dengan zoom in dan / atau zoom out. Sebuah contoh kesalahan dalam pergerakan kamera (camera movement).
Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dengan Memotret
Berbeda dengan kamera foto yang merekam sebuah momen, kamera video merekam sebuah proses dinamis atau aksi (action), sehingga menghasilkan gambar bergerak (dan bersuara). Kebiasaan mengabadikan sebuah momen pada saat memotret, acapkali terbawa pada saat mempergunakan kamera video. Hasilnya adalah hasil rekaman video dengan durasi yang terlalu pendek dalam setiap shot (satu ambilan gambar dalam satu rekaman). Shot yang terlalu pendek tidak nyaman untuk dinikmati, karena tidak memberikan waktu yang cukup bagi penonton untuk memahami detil subyek yang ditampilkan. Shot yang terlalu pendek juga akan menimbulkan kesulitan dalam proses pasca produksi (editing).
Merekam Tokoh Misterius
Menempatkan subyek penting (umumnya manusia) pada bagian depan dengan latar belakang yang lebih kuat pencahayaannya. Kebiasaan atau ketidaksadaran dengan situasi backlight seperti ini (dan tidak segera melakukan antisipasi), akan menciptakan siluet dan sosok-sosok misterius. Rekaman video yang terlalu sering atau terlalu lama dalam kondisi backlight, sudah pasti tidak akan nyaman ditonton dan kehilangan kesan profesional. Sebuah contoh kesalahan umum dalam hal pencahayaan (lighting).
Apakah Anda pernah atau masih mengalami salah satu diantaranya ?
Bagaimana Membuat Film Dokumenter
Oleh Jennifer SteinbergSebagai kurator sebuah festival film dokumenter, saya sering ditanya tentang bagaimana seharusnya seseorang membuat atau memproduksi film dokumenter. Sekarang ini, dengan peralatan yang murah, setiap orang dapat membuat film. Bisa saja benar demikian, namun, seberapa baik hasilnya? Adakah yang bersedia membayar untuk menontonnya?
Berikut adalah beberapa langkah penting yang sangat mendasar dalam membuat film dokumenter:
1) Pastikan bahwa kita mempunyai ide yang orisinil. Telusuri daftar-daftar film di festival internasional (khususnya Hot Docs, Silver Docs, Full Frame dan festival film dokumenter lainnya), Internet Movie Database, Indiewire dan wadah film-film lainnya, untuk memastikan bahwa belum ada film dengan topik yang sama pernah dibuat. Hampir semua film yang dibuat oleh para pemula dapat menarik perhatian para distributor film dari keikutsertaanya dalam festival film. Programer festival biasanya hanya mempunyai sedikit tempat untuk film dokumenter. Pastikan bahwa film kita berbeda dari yang lain. Film-film tentang 9/11, Iraq, dan AIDS adalah film-film yang sudah sangat umum.
2) Baca. Jika belum pernah sama sekali membuat film maka kita harus banyak belajar. Jangan membuat kesalahan-kesalahan yang tidak penting dan akhirnya membuang-buang uang. Luangkan waktu untuk membaca atau mencari cara untuk mendapatkan masukan dari para profesional.
3) Tonton. Carilah tempat-tempat di mana kita bisa menyewa atau menonton film-film dokumenter. Jika menggunakan TV kabel, beberapa saluran (channel) juga dapat menjadi sumber yang baik. Diskusikan film dokumenter favorit bersama teman yang juga menyukai film. Catat hasil diskusi yang penting.
4) Riset. Kita harus tahu bagaimana caranya membuat si subyek benar-benar 'hidup' dalam film. Pikirkan itu pada saat membuat treatment? hingga ke tampilannya. Pastikan kita sudah mendapatkan kesediaan dari para nara sumber juga izin lokasi di mana kita akan merekam gambar.
5) Jika hal-hal yang dibutuhkan sudah terkumpul, mulailah menulis treatment. Ikuti format yang sudah ditetapkan dalam menulis treatment?. Cari buku panduan jika membutuhkan bantuan. Ingatlah bahwa karya kita bermula dari treatment.
6) Hitung dan kumpulkan anggaran. Perkirakan berapa wawancara yang akan dilakukan dalam pembuatan film ini, berapa hari yang diperlukan, berapa tim yang akan ikut dalam produksi ini (penata suara, penata kamera, sutradara, editor), perlu tidaknya menyewa alat. Belakangan ini, kebanyakan film dokumenter berformat DVD or DigiBeta. Jangan lupa, izin atau biaya hak cipta dari musik yang akan kita pakai dapat menambah biaya yang cukup lumayan.
7) Tambahkan 30% di rencana anggaran kita, sebagai anggaran tidak terduga.
8) Cari investor atau pen-donor. Para pemula biasanya mengajak teman atau keluarganya untuk ambil bagian dalam filmnya. Kita bisa mengajukan proposal ke bermacam-macam yayasan yang memberikan bantuan dana bagi pembuatan film dokumenter. Pada umumnya kita harus menunggu 3-6 bulan dari awal pengajuan proposal untuk mendapatkan jawabannya. Jangan memaksakan diri meminjam uang atau menggunakan kartu kredit untuk membuat film.
9) Atau kita bisa juga mempresentasikan treatment kita ke stasiun-stasiun TV yang mempunyai program dokumenter.
10) Produksi film.
11) Putar film kita di kalangan yang mengapresiasi film dokumenter atau kelompok-kelompok yang merupakan target penonton film kita. Evaluasi film kita melalui angket yang disebarkan saat itu, yaitu meminta penonton untuk menuliskan pendapat mereka tentang film kita. Apakah mereka mengerti, bagaimana suasananya dan pertanyan-pertanyaan lain yang kita anggap penting.
12) Tilik kembali evaluasi-evaluasi yang kita dapatkan dan kemudian pikirkan kembali apakah ada yang perlu diubah atau ditambahkan.
13) Ajukan film kita ke festival-festival film yang ada. Bisa dimulai dari festival-festival lokal (daerah) dan nasional.
Macam-macam Bentuk Film DokumenterMM, B
Kalau kita menggunakan pemahaman bahwa realita adalah kenyataan yang kita lihat di hadapan kita, dan film dokumenter adalah upaya untuk mendokumentasikan (merekam) realita semacam itu, maka usia film dokumenter sama tuanya dengan teknologi film itu sendiri.Dikatakan demikian, karena sejak awal usaha manusia untuk mengembangkan teknologi yang mampu merekam gambar hidup, apa yang dilakukan adalah dengan merekam aneka peristiwa yang terjadi di hadapan mereka. Apa yang dilakukan Lumiere Bersaudara dalam persaingannya dengan George Eastman di akhir abad ke-18 dalam mewujudkan teknologi kamera film dan bioskop, mereka merekam bayi yang baru belajar berjalan, perjalanan kereta api, kapal laut bersandar di pelabuhan serta buruh pabrik pulang dari tempat kerja mereka.
Namun, apakah ini yang disebut sebagai film dokumenter? Pada akhir abad ke-19, seorang geolog yang dikontrak perusahaan minyak untuk melakukan explorasi di utara Benua Amerika, mendokumentasikan kehidupan keluarga Eskimo selama lebih dari 15 tahun. Kumpulan dokumentasi tersebut kemudian diedit menjadi sebuah film berjudul Nanook of the North, dan geolog tersebut adalah Robert J. Flagherty yang kemudian menjadi bapak film dokumenter. Apakah ini yang disebut film dokumenter masa kini? Sulit untuk mendapatkan jawaban yang tepat karena para pembuat film dokumenter yang terinspirasi para perintis ini kemudian mengembangkan beraneka pendekatan baru. Untuk apa? Semata karena mereka memerlukan bentuk-bentuk yang lebih tepat dalam mengeskspresikan pendapat mereka terhadap kejadian-kejadian di sekitar kehidupan manusia, bahkan di tempat-tempat yang tak terjangkau sebagian besar orang—ke hadapan para penonton, agar mereka bisa memetik pelajaran yang berguna dari realita tersebut.
Untuk ringkasnya, gaya atau bentuk film dokumenter dapat dibagi ke dalam 3 bagian besar. Pembagian ini merupakan ringkasan dari aneka ragam bentuk film dokumenter yang berkembang sepanjang sejarahnya. Mengapa kita perlu tahu ragam bentuk film dokumenter yang ada? Karena mengenali bentuk-bentuk film dokumenter ini, serta memahami kelebihan, kelemahan, keterbatasan dan keunggulannya akan bisa membantu usaha anda untuk menyampaikan pesan-pesan yang mendorong anda untuk membuat film dokumenter.
Expository
Dokumenter dalam kategori ini, menampilkan pesannya kepada penonton secara langsung, baik melalui presenter ataupun dalam bentuk narasi. Kedua bentuk tersebut tentunya akan berbicara sebagai orang ketiga kepada penonton secara langsung (ada kesadaran bahwa mereka sedang menghadapi penonton/banyak orang). Mereka juga cenderung terpisah dari cerita dalam film. Mereka cenderung memberikan komentar terhadap apa yang sedang terjadi dalam adegan, ketimbang menjadi bagian darinya. Itu sebabnya, pesan atau point of view dari expository dielaborasi lebih pada sound track ketimbang visual. Jika pada film fiksi gambar disusun berdasarkan kontinuitas waktu dan tempat yang berasaskan aturan tata gambar, maka pada dokumenter yang berbentuk expository, gambar disusun sebagai penunjang argumentasi yang disampaikan oleh narasi atau komentar presenter. Itu sebabnya, gambar disusun berdasarkan narasi yang sudah dibuat dengan prioritas tertentu.
Salah satu orang yang berperan dalam kemunculan bentuk dokumenter ini adalah John Grierson, yang menurutnya, pembuat dokumenter haruslah menempatkan dirinya sebagai seorang propagandis, yang mengangkat tema-tema dramatis dari kehidupan yang dekat di sekeliling kita sebagai sebuah kewajiban sosial atau kontribusi terhadap lingkungan dan budaya. Seorang pembuat film dokumenter, katanya, “bukanlah cermin, tetapi sebuah gada (palu besi yang besar)”. Hal ini memang tercermin dari film-film Grierson yang sering mengangkat persoalan seputar kehidupan sosial orang-orang kebanyakan. Pada masa itu, film dokumenter adalah barang baru, karena masyarakat masih menganggap layar lebar atau televisi adalah tempat artis, celebritis dan tokoh masyarakat, bukan tempat kita menonton perilaku wong cilik. Itu sebabnya film-film Grierson banyak bercerita tentang buruh, gelandangan, dll.
Pada perkembangannya, sewaktu peralatan kamera dan perekam suara portabel ditemukan, expository juga menggunakan format wawancara yang memungkinkan orang—selain pembuat film—bisa memberikan komentar, baik secara langsung atau sebagai voice over, demikian juga penggunaan archival footage seperti foto, film footage, gambar, dll. Inilah yang kemudian menjadi mainstream dokumenter di televisi.
Argumentasi yang dibangun dalam expository umumnya bersifat didaktik, bertendensi memaparkan informasi secara langsung kepada penonton, bahkan mampu mempertanyakan baik-buruk suatu fenomena berdasarkan pijakan moral tertentu dan umumnya mengarahkan penonton pada satu kesimpulan secara langsung. Agaknya inilah yang membuat bentuk expository popular di kalangan televisi, karena ia menghadirkan sebuah sudut pandang yang jelas (it presents its point of view clearly) dan menutup kemungkinan adanya misinterpertasi.
Namun dari segala kelebihan tersebut, justru expository banyak mendapat kritikan karena cenderung menjelaskan makna dari gambar yang ditampilkan. Seolah mereka tidak yakin kalau gambar-gambar tersebut mampu menyampaikan pesannya sendiri. Bahkan, expository cenderung menempatkan pemirsanya seolah tak memiliki kemampuan untuk membuat kesimpulan sendiri. Dan tentu saja, kehadiran voice over cenderung membatasi bagaimana gambar harus dimaknai. Selain itu, karena gambar disusun bukan bersarkan audio yang terdapat dalam gambar tersebut (suara atmosfer yang terekam saat shooting atau dialog yang terdapat dalam gambar tersebut), melainkan berdasarkan narasi yang sudah dibuat sebelumnya, ia menjadi kehilangan konteks. Tak heran kalau susunan gambarnya tidak memiliki kontinuitas, serta koherensi. Coba anda tonton tayangan seperti ini tanpa audio, pasti akan sulit sekali untuk menangkap makna film tersebut.
Namun, sesungguhnya tidak ada yang salah dengan penggunaan voice over (VO) atau narasi. Dalam banyak kasus, kehadiran narasi atau VO sangat diperlukan. Misalnya apabila visual dirasa kurang mampu atau tidak bisa memberikan informasi yang memadai tentang apa yang hendak disampaikan. Atau tidak tersedia visual yang betul-betul kuat untuk mengungkap pesan yang ingin disampaikan. Selama penggunaannya dilakukan secara cantik, efektif, dan informatif, VO atau narasi akan sangat membantu. Seringkali pembuat film menggunakan VO atau narasi untuk memancing rasa ingin tahu penonton, lalu membiarkan gambar berikutnya memberikan penjelasannya. Kadang VO digunakan untuk mengkomentari visual secara ironis atau reflektif (suara hati, misalnya) tanpa harus berkotbah. Namun intinya, anda tidak perlu mengatakan sesuatu dan memperlihatkannya secara bersamaan. Atau jangan menjelaskan apa yang sudah jelas terlihat dalam gambar.
Observatory/Direct Cinema
Aliran ini muncul sebagai bentuk ketidakpuasan para pembuat film dokumenter terhadap model sebelumnya yang telah diuraikan diatas. Pendekatan yang bersifat observasi ini utamanya ingin merekam kejadian secara spontan, natural dan tidak dibuat-buat. Itu sebabnya, pendekatan ini menekankan pada kegiatan shooting yang informal tanpa tata lampu khusus ataupun persiapan-persiapan yang telah dirancang sebelumnya. Kekuatan mereka adalah kesabaran untuk menunggu kejadian-kejadian yang signifikan berlangsung di hadapan kamera.
Para penekun direct cinema berangkat dari keyakinan bahwa lewat pendekatan yang baik, kehadiran pembuat film beserta kameranya, akan diterima sebagai bagian dari keseharian para subjeknya. Bahkan pada kasus-kasus tertentu, kehadiran pembuat film dan kamera, sepertinya sudah tidak dianggap ada oleh subjek beserta keluarganya. Pembuat film berusaha agar kehadiran mereka sekecil mungkin memberikan pengaruh terhadap kehidupan keseharian dari para subjeknya.
Tentunya hal ini mensyaratkan proses pendekatan terhadap subjek dibangun dalam jangka waktu yang relatif panjang dan intens. Perkenalan yang baik di tahap awal memegang peranan penting agar pembuat film dapat diterima. Pembuat film akan berusaha bergaul seakrab mungkin dengan subjek sambil membangun kepercayaan. Hal ini biasa dilakukan di tahap riset. Dibutuhkan waktu yang cukup panjang sebelum pembuat film kemudian membawa kamera dan melakukan pengambilan gambar. Setelah pembuat film merasa kehadirannya di lingkungan subjek sudah tidak lagi dirasa asing dan tidak lagi dipertanyakan, barulah pembuat film mulai memperkenalkan kehadiran kamera. Proses shooting pun mengikuti rutinitas yang biasa dilakukan oleh subjek sehari-hari. Hal ini dilakukan karena aliran ini cenderung tidak ingin memberikan kesan bahwa para subjeknya sedang dalam kegiatan khusus untuk keperluan pengambilan gambar. Pembuat film tidak ingin para subjeknya ber-acting di depan kamera dan melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak biasa mereka lakukan sehari-hari. Oleh karenanya, sebisa mungkin keberadaan kamera diusahakan tidak tampil menonjol.
Kemunculan aliran ini tidak lepas kaitannya dengan teknologi baru dalam dunia perfilman yang menghadirkan peralatan-peralatan yang semakin kompak, kecil dan mudah dioperasikan serta memiliki kemampuan mobilitas yang tinggi. Kehadiran wireless microphone serta directional microphone dengan fokus yang sempit dan sensitif terhadap jarak, menjadi salah satu andalan.
Direct Cinema memang berhasil menghadirkan kesan intim antara subjek dengan penonton. Subjek secara spontan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Tidak saja melalui ucapan langsung ke kamera, namun melalui tindakan, kegiatan serta percakapan yang dilakukan dengan subjek-subjek lain secara aktual. Sehingga, penonton merasa dihadapkan pada realita yang sesungguhnya.
Karena kamera mampu menangkap kegiatan serta percakapan-percakapan yang spontan, intim, dan alami inilah, para penggiat aliran ini kemudian meninggalkan penggunaan narasi. Bahkan kehadiran narasi jadi dianggap menggangu. Narasi menjadi elemen yang asing dalam susunan gambar. Narasi dianggap mereduksi dan membatasi realita yang ditampilkan. Logika dalam narasi juga dianggap bertendensi menjelas-jelaskan serta menggurui penonton. Wawancara yang bersifat formal juga dihindari. Pembuat film lebih tertarik untuk mengikuti apa yang diperbuat subjek ketimbang mendengarkan ocehan mereka, sehingga subjek tampil lebih sebagai individu yang unik, bukan mewakili kategori-kategori tertentu. Hal ini dilakukan karena pembuat film ingin memfilmkan pengalaman hidup ketimbang membuat kesimpulan atau pelaporan.
Konsekuensi lain dari direct cinema adalah, pembabakan dalam film ditata, utamanya menggunakan semua elemen kejadian yang berhasil direkam. Itu sebabnya, pekerjaan mengedit dalam aliran ini menjadi lebih berat lagi. Tanpa kehadiran narasi, susunan gambar harus tepat, saling menjalin dalam struktur sebab-akibat yang jelas dan logis sehingga mampu menjelaskan segala informasi yang dibutuhkan penonton. Apa yang telah dirancang berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan secara mendalam, belum tentu mampu berhasil di dapat pada tahap perekaman. Karena pembuat film berusaha seminimal mungkin melakukan pengarahan seara langsung kepada subjek-subjek filmnya. Penggunaan teknik handheld-pun menjadi lebih dominan mengingat kecilnya kemungkinan pembuat film melakukan persiapan yang cukup untuk melakukan penempatan kamera dengan tripod secara terencana. Penggunaan lensa wide angle juga menjadi penting untuk memberikan kesan penonton hadir ditengah-tengah arena yang sedang berlangsung.
Direct Cinema percaya bahwa film dokumenter bisa bertindak bak sebuah cermin bagi suatu realitas. Itu sebabnya, mereka berusaha agar kehidupan yang mereka rekam menceritakan sendiri persoalanya, dan pembuat film hanya menjadi alat bantu untuk merefleksikannya ke layar. Sementara penonton diberi kebebasan untuk menginterpretasi susunan gambar. Berbagai informasi yang signifikan diletakan oleh pembuat film dalam susunan yang tidak ketat dan diusahana tidak mengalami reduksi, sehingga memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyusun logikanya sendiri.
Reflexive/Cinéma Vérité
Berbeda dengan kaum observer yang cenderung tidak mau melakukan intervensi dan cenderung menunggu krisis terjadi, kalangan cinéma vérité justru secara aktif melakukan intervensi dan menggunakan kamera sebagai alat pemicu untuk memunculkan krisis. Dalam aliran ini, pembuat film cenderung secara sengaja memprovokasi untuk memunculkan kejadian-kejadian tak terduga.
Cinéma vérité tidak percaya kalau kehadiran kamera tidak mempengaruhi penampilan keseharian subjek, walaupun sudah diusahakan tidak tampil dominan. Menurut mereka, kehadiran pembuat film dan kameranya pasti akan mengganggu keseharian subjek. Tidak mungkin subjek tidak memperhitungkan adanya kehadiran orang lain dan kamera. Subjek pasti memiliki agenda-agenda mereka sendiri terkait dengan keterlibatan mereka dalam proses pembuatan dokumenter tersebut. Oleh karenanya, ketimbang berusaha membuat subjek lengah terhadap kehadiran pembuat film dan kamera—yang menurut mereka tidak mungkin terjadi—pergunakan saja kamera sebagai alat provokasi untuk memunculkan krisis atau ide-ide baru yang spontan dari kepala subjek.
Pendekatan ini sangat menyadari adanya proses representasi yang terbangun antara pembuat film dengan penonton seperti halnya pembuat film dengan subjeknya. Itu sebabnya, pembuat film dalam aliran ini tidak berusaha bersembunyi, mereka justru tampil menempatkan diri sebagai orang pertama, sebagai penyampai issue sehingga tidak jarang mereka tampil langsung di kamera atau berbicara kepada subjek, kepada penonton ataupun kepada dirinya sendiri. Pembuat film berbicara langsung ke kamera ataupun melalui voice over. Bahkan ada berapa pembuat film yang merasa perlu menampilkan proses kegiatan perekaman-aktivitas kru in-frame langsung atau melalui bayangan di cermin selama rekaman berlangsung—untuk mengingatkan penonton bahwa kru film juga bagian dari proses komunikasi yang sedang mereka lakukan.
Prinsip Editing Film dan Televisi
Tujuan dari editing film bukan hanya pada kontinyuitas atau kesinambungan cerita saja, jauh dari itu nilai dramatis tidah boleh diabaikan. Problem editing akan terjadi pada individual shot, apakah dalam shot tersebut merupakan gambar diam atau bergerak, apakah fokus ada pada foreground atau background, seberapa dekat subyek di dalam sebuah frame, apakah subyek berada di tengah atau salah satu sisi frame, bagaimana dengan warna serta cahaya yang ada dalam shot tersebut? Akan menjadi dramatis ketika shot sudah dijukstaposisi, shot ke dua harus punya relasi atau hubungan dengan shot sebelumnya. Hubungan antar shot tersebut harus diperhatikan oleh editor.Film yang paling sederhana merupakan shot tunggal yang sudah merupakan rangkaian adegan, misalnya : seorang laki-laki memasuki café lalu duduk dan memesan minuman. Akan tetapi bisa jadi shot tunggal yang secara waktu merupakan waktu nyata/realtime ini menjadi tidak menarik, karena tidak ada perubahan komposisi, perubahan sudut pandang, perubahan ritme. Kasus seperti ini yang menjadi perhatian Griffith untuk mencoba membuat apa yang dinamakan dramatic time. Waktu nyata atau real time bisa dilanggar dengan dramatic time, dengan menempatkan shot lain bukan shot tunggal. Editor bisa menempatkan shot
Pemotongan Gambar
Ada dua jenis pemotongan gambar dalam editing, yakni cut dan transisi. Cut berarti perpindahan dari satu shot ke shot berikutnya secara langsung, tanpa ada transisi sama sekali. Sedangkan transisi atau effect transition , jenis sambungan yang menggunakan transisi/antara dari satu shot ke shot berikutnya. Editor bisa menggunakan cut atau transisi tergantung dari dampak atau efek apa yang diinginkan, karena secara prinsip penggunaan ke dua jenis transisi ini akan berbeda. Misalnya, durasi film yang sama akan terasa lebih lama jika dalam fim tersebut menggunakan efek transisi daripada penggunaan cut. Jenis pemotongan cut sendiri dibagi dua, yakni matched cut dan cut away. Match cut berarti ada kesinambungan antar shot satu dengan cut shot berikutnya. Sebuah sambungan atau cut dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Penyambungan
Editing tidak boleh membingungkan penonton, ini sebuah prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang editor. Ketika shot disambungkan satu sama lain sehingga menjadi satu rangkaian, maka rangkaian shot tersebut harus dipahami oleh penonton. Barangkali, baiknya editor terlebih dahulu memahami tentang prinsip penyambungan shot, yang terdiri atas : sequence shot, cutting to continuity, classical cutting, thematic montage, dan abstract cutting.
Sequence Shot
Film atau adegan dibuat tanpa menggunakan pemotongan sama sekali atau no cut. Awalnya metode ini dilakukan karena pada awalnya sejarah film, memang belum dikenal dengan teknologi serta prinsip editing. Satu adegan direkam dalam satu shot, tanpa ada interupsi cutting. Makanya pada saat itu film belum bisa dibuat dalam durasi yang panjang. Akan tetatpi, saat ini sepertinya ini dijadikan sebuah model untuk pengambilan gambar secara khusus serta salah satu metode editing. Satu rangkaian adegan dilakukan dalam satu shot tanpa ada pemotongan gambar sama sekali. Misalnya saja, dalam sebuah naskah dituliskan sebuah adegan sebagai berikut : Dalam sebuah kamar kost, Sari mengambil handphone di atas meja, mengambil tas, lalu bergegas ke luar kamar. Sutradara yang menterjemahkan naskah ke dalam bentuk bahasa visual, sebetulnya bisa membuat berbagai treatment shot sesuai dengan gagasannya. Contoh adegan di atas misalnya, sutradara bisa membuat beberapa shot serta bisa jadi beberapa angle atau sudut pengambilan gambar. Namun, dengan konsep sequence shot, sutradara hanya membuat satu shot untuk rangkaian adegan tadi. Demikian juga dalam editing, editor tidak usah melakukan pemotongan atau cutting jika itu dimaksudkan sebagai sequence shot.
Cutting to Continuity
Ketika kita menyambungkan satu shot dengan shot lainnya, seorang editor harus memiliki motivasi atau tujuan yang jelas. Sebuah cerita atau adegan dirangkai dari beberapa shot. Cutting to continuity merupakan sambungan atau cut digunakan untuk melanjutkan cerita, cutting to continue teeling the story. Sebuah cut untuk menyambung scene dengan scene berikutnya. Misalnya, ada beberapa shot sperti ini : 1. Secangkir kopi 2. CU seorang pria 3. Tangan yang mengangkat cangkir kopi 4. Meletakan cangkir 5. Menghela nafas. Jika ke lima shot itu disambung maka akan menghasilkan cerita, misalnya menjadi seorang pria yang sedang meminum kopi. Dan ini yang dinamakan penyambungan untuk membuat satu cerita.
Classical Cutting
Kalau anda suka menonton sinetron atau film India, maka dipastikan kita akan melihat (baik disadari atau tidak) satu konsep penyambungan gambar seperti ini, yakni classical cutting. Yakni sebuah pemotongan untuk memperjelas, mendramatisir atau menggarisbawahi sesuatu (shot), cutting to clarify, dramatize or underline the previous shot. Hampir sama dengan jenis sambungan cutting to continuity, bedanya dalam jenis penyambungan ini diharapkan penonton akan mendapatkan efek yang dramatis akan perpindahan gambar ini. Misalnya ada dua tokoh yang sedang berantem dengan ekspresi muka yang marah. Editor melakukan penyambungan beberapa kali pada ke dua tokoh tersebut dengan maksud untuk memperjelas bahwa ada konflik di antara ke dua tokoh tersebut.
Thematic Montage
Sudah sejak dari jaman awal sinema, para sineas Russia telah mencoba beberapa eksperimen penyambungan gambar. Dan yang paling polpuler yang mereka lakukan, dan hingga kini masih berpengaruh pada para sineas dunia yakni metode penyambungan gambar thematic montage. Yakni sebuah cut untuk menyambung satu cerita dengan cerita lain, sebuah cut untuk menyambung sebuah tesis (shot) dengan tesis (shot) lain; cutting to connect one story to another; cutting to argue one thesis to another.
Eksperimen ini dilakukan dengan cara menggabungkan satu cerita dengan cerita lain akan menghasilkan cerita yang baru. Sineas Russia itu mencoba menggabungkan, satu cerita tentang tentara dengan perlengkapan perang yang lengkap yang ke luar dari kapal perang. Di satu cerita lain, petani gandum yang sedang panen. Ketika ke dua scne itu digabungkan, maka seolah-olah akan terjadi invasi tentara pada petani gandum.
Abstract Cutting
Sebuah cut yang tidak untuk menyambung cerita, tidak untuk memperjelas atau mendramatisasi atau menggarisbawahi sesuatu, juga tidak untuk menyambung satu cerita dengan cerita lain; juga tidak untuk menyambung satu thesis dengan thesis lain, maka sebuah sambungan berfungsi hanya sebagai sambungan belaka; cutting is cutting; cutting as cutting
10 Tips Untuk Para Editor
Sebelum melakukan produksi atau pengambilan gambar, ada banyak hal yang perlu dilakukan oleh editor untuk diselesaikannya pada awal produksi. Selain sistem pengeditan itu sendiri, berikut adalah 10 hal penting yang seharusnya dilakukan oleh para editor1. Samakan visi anda dengan sutradara / produser / klien. - pahami pikiran mereka tentang proyek.yang akan dilakukan bagaimana mereka melihatnya secara kreatif? Jangan lupa memahami storyboard dan dokumen lain yang dibuat sebelum produksi.
2. Jangan pernah meremehkan pertemuan pra-produksi,
3. Bergabunglah dengan kru produksi Anda. - Apakah itu pada pertemuan pra-produksi atau di lokasi syuting, berbicara dan bertukar pikirlah dengan sutradara direktur fotografi, kameraman, teknologi digital imaging , artistik, audioman, lightingman, penulis script dll
4. Jika produksi anda direkam pada media memory / hardisk – siapkan computer /laptop untuk mentransfer hasil rekaman anda, karena memory untuk kamera sangat terbatas sesegera mungkinlah mentransfer data anda setelah pengambilan beberapa shot, dan yang terpenting segera buatkan backup untuk mengantisipasi segala kemungkinan
5. Mengatur materi editing. - Mengedit adalah proses kontinuitas penggabungan materi syuting dan memberi sentuhan artistik, efek visual maupun grafis / animasi dengan memiliki asisten setidaknya memberikan kemudahan bagi anda
6. Buatlah catatan untuk film anda - Buatlah catatan terperinci tentang pengambilan gambar. lighting , audio dsb. Proses ini sedikit memakan waktu tapi demi kepuasan di kemudian hari, terutama jika Anda memiliki banyak rekaman dan atau jadwal produksi yang panjang.
7. Mulai mengoreksi rekaman./ hasil edit anda - Jika ada yang benar-benar tak layak pakai jangan segan-segan untuk tidak menggunakannya
8. Buat database yang representatif - Detail informasi tentang semua / Anda suara grafis / visual effect / atau unsur-unsur musik. lainnya
9. Diskusikan dengan sutradara, produser ataupun music director tentang pemilihan ilustrasi musik. - Jika mereka tidak memiliki preferensi, biarkan naluri anda.yang bermain
10. Periksa Timeline Anda. - Selalu, lakukan ini setiap sebelum pemutaran. Pastikan semua trek yang sinkron dan tidak ada jump picture / jump cat atau offline audio. Pastikan bahwa semua efek yang membutuhkan rendering telah terlaksana



